Sampang | Madurakita.com – Aksi demonstrasi yang berujung pada vandalisme di Sampang bukan hanya sekadar coretan tinta hitam didalam sejarah demokrasi, melainkan luka menganga yang menguji nyali penegak hukum. Di balik tuntutan percepatan Pilkades 2026, tersembunyi ironi: kebebasan berekspresi yang dinodai oleh tindakan anarkistis. Jakarta, (31 Oktober 2025).
Mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan suara lantang mendesak Kepolisian Resor (Polres) Sampang untuk segera bertindak. Kasus ini bukan hanya sekadar kriminalitas biasa, melainkan ancaman serius terhadap tatanan demokrasi.
Syaiful Bahri, aktivis Madura, dengan nada geram mengingatkan, “Kebebasan tanpa tanggung jawab adalah anarki, dan anarki merupakan antitesis dari demokrasi itu sendiri.” Baginya, Alun-Alun Trunojoyo bukan hanya sekadar ruang publik, tapi juga simbol Sampang yang seharusnya di rawat dan dijaga. “Jangan biarkan para perusuh merobek simbol ini dengan tangan-tangan kotor mereka!” serunya.
Syaiful juga menyoroti akan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tanpa kompromi. Karna Impunitas, menurutnya, adalah racun yang akan membunuh demokrasi demi perlahan. Ia mendesak Polres Sampang untuk mengungkap siapa dalang di balik aksi ini, bukan hanya mengejar para pelaku lapangan. “Jangan biarkan para dalang itu bersembunyi di balik tirai dengan rasa haus akan kekuasaan,” tegasnya.
Inisiator BEM Madura Raya menilai, kalau para perusak mungkin hanyalah korban dari manipulasi pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan. “Oleh karena itu, aparat penegak hukum harus bertindak tegas, namun tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan. Sikat habis semua yang terlibat, tanpa pandang bulu!” Ungkap Pria asal Madura itu.
Mantan Presma IAIN Madura itu mengajak seluruh elemen masyarakat Sampang untuk merenungkan kembali makna demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi, bukanlah sekadar prosedur pemilihan, melainkan komitmen untuk membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan juga beradab. “Mari kita rapatkan barisan dan menjaga demokrasi ini dari serangan para kaum anarkis dan para pemburu kekuasaan!” ajaknya dengan semangat membara.
Syaiful mengingatkan, kalau perubahan sosial yang hakiki hanya bisa dicapai dengan melalui dialog, musyawarah, dan tindakan yang berlandaskan pada akal sehat dan hati nurani. Namun, dialog dan musyawarah akan sia-sia jika hukum tidak ditegakkan.
“Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita sekalian. Polisi, jangan biarkan Sampang berdarah! Tunjukkan bahwa hukum masih berdaulat di tanah ini!” Pungkas nya.
Jakarta: 31 Oktober 2025
|Penulis : Syaiful Bahri
| Ketua BEM Madura Raya
Penulis : red
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Madura kita
















