Malang | Madurakita.com — Tim peneliti dari Program Magister Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang (UM) memperkenalkan inovasi media bimbingan konseling (BK), berbasis budaya lokal Madura untuk memperkuat perilaku respek dan karakter siswa SMA.
Inovasi ini memadukan pendekatan sosiodrama dengan falsafah budaya “Bhuppa’ Bhabbu’ Ghuru Rato”, sebuah nilai kearifan lokal yang menempatkan ayah, ibu, guru, dan pemimpin sebagai figur yang patut dihormati. Nilai ini menekankan pentingnya sikap saling menghormati, penghargaan, tanggung jawab, empati, serta kerja sama dalam membangun kehidupan sosial yang beradab.
Tim peneliti terdiri dari Prof. Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd sebagai ketua, bersama Dr. Diniy Hidayatur Rahman, M.Pd dan Erfan Nawawi sebagai anggota. Ketiganya merupakan akademisi yang aktif dalam pengembangan pendidikan karakter dan model intervensi konseling di sekolah.
Penelitian dan pengembangan media dilakukan di Kabupaten Pamekasan, Madura, dengan uji penerapan di SMAN 4 Pamekasan sepanjang tahun 2025. Kolaborasi ini berlangsung sebagai bagian dari penelitian terapan di bidang bimbingan konseling.
Pengembangan media ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya sikap hormat siswa terhadap guru dan orang tua, meningkatnya komunikasi keras dalam interaksi sosial, hingga melemahnya sensitivitas terhadap nilai kesopanan. Sementara itu, budaya Madura sebenarnya memiliki tradisi tata krama sosial yang kuat, namun mulai tergerus oleh gaya hidup digital yang semakin instan.

Media BK yang dikembangkan berupa panduan layanan bimbingan kelompok dan skenario sosiodrama yang memungkinkan siswa belajar melalui pengalaman langsung. Siswa memainkan adegan yang mencerminkan situasi kehidupan nyata, kemudian melakukan refleksi dan evaluasi bersama. Dengan pendekatan ini, nilai respek tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi juga dilatih dan dihayati melalui proses interaksi.
Prof. Muslihati menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan media ini adalah memberikan fasilitas layanan BK yang kontekstual dengan identitas budaya siswa. “Penguatan karakter tidak selalu harus melalui model yang berasal dari luar. Budaya kita sendiri menyimpan nilai-nilai luhur yang dapat menjadi dasar pembentukan kepribadian, jika dihadirkan dengan pendekatan yang tepat,” jelasnya.
Dari penelitian ini, tim peneliti berharap media BK berbasis budaya Madura tersebut dapat dimanfaatkan sekolah sebagai sarana penguatan karakter siswa. Media ini diharapkan mampu membantu guru BK menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal dalam kegiatan pembelajaran, sehingga pendidikan karakter dapat berjalan lebih kontekstual, dekat dengan kehidupan siswa, dan mudah diterapkan. (di/mas)
Penulis : red
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Madura kita
















